Abahguru sekumpul _ Tentang Thariqat Sammaniah bagian ke 2.mp4

Maros - Tarekat Khalwatyah Samman yang pusatnya berada di Maros, Sulawesi Selatan, memiliki metode berbeda dengan jemaah tarekat lain. Zikir mereka ini lebih dikenal dengan nama Ma'rate atau dalam bahasa Arab disebut ratib. Zikir yang dilakukan oleh jemaah tarekat ini dilakukan rutin usai salat isya dan subuh. Jika saat bulan Ramadhan, zikir ini dilakukan setiap malam usai salat tarawih dan sekadar melafalkan tauhid ratusan kali. Zikir tarekat Khalwatyah Samman juga disertai dengan gerakan tubuh hingga tepukan tangan pada paha yang menjadikan zikir ini berirama. Jemaah tarekat Khalwatyah Samman sedang berzikir. Foto Moehammad Bakrie/detikcom"Zikir seperti ini kita laksanakan rutin di luar Ramadhan pada waktu subuh dan isya. Nah saat Ramadhan ini memang yang ikut ramai karena jemaahnya bertambah usai salat tarwih dan witir. Ada juga yang ikut dari daerah lain," kata pimpinan tarekat Khalwatyah Samman, Andi Hidayat Puang Rukka, saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu. Gerakan zikir ini mengibaratkan sebuah pohon yang diterpa angin kencang yang membuat daun-daunnya ikut terhempas ke tanah. Perumpamaan itulah yang menurut mereka sebagai upaya menggugurkan dosa dengan terus menyebut nama Allah. Selain itu, zikir ini juga sebagai bentuk penyatuan antara Tuhan dengan makhluk-Nya. Bacaannya juga sederhana. Pertama, para jemaah melafalkan kalimat syahadat sebanyak 100 kali. Selanjutnya, jemaah hanya menyebut kata illa Allah sebanyak 100 dilanjutkan dengan kata Allah, juga sebanyak 100 kali. Pada zikir terakhir, yang disebut zikir rahasia, jemaah cukup berseru kata 'ah' dengan bilangan tak terbatas, hingga imam berhenti. "Jadi gerakannya ini maknanya sangat banyak. Salah satunya ini menggugurkan dosa seperti pohon yang diterpa angin dan daunnya berjatuhan. Sebenarnya, zikir ini kita anggap zikir biasa, karena masih ada satu lagi zikir dalam tarekat kami yang lebih besar. Tapi dilakukan di waktu tertentu saja, seperti kalau ada wabah atau kondisi negara sedang goncang," sejarahnya, tarekat Khalawatiyah Samman ini dicetuskan oleh seorang ulama besar di Madinah bernama Syekh Muhammad Ibdu Abdul Kari Assmman sekitar abad ke-18. Ajaran tarekat ini menyebar sampai ke Tanah Air dan mulai besar di Sulawesi Selatan pada masa kerajaan Turikale di Maros dengan rajanya yang keempat, Andi Sanrima Daeng Parukka. Hingga kini, jemaah tarekat Khalwatyah Samman sudah mencapai puluhan ribu orang dari berbagai daerah di Tanah Air, bahkan di Malaysia dan Brunai. Setiap tahun, puluhan ribu jemaah ini berkumpul di Maros dalam peringatan Maulid sekaligus ziarah ke makam guru-guru mereka yang berada di tiga tempat berbeda. "Jadi sejarahnya yang membuat tarekat ini besar yakni pada masa raja keempat kerajaan Turikale ini. Bersama dengan Syekh Abdul Razak, beliau membuat tarekat ini tidak lagi eksklusif bagi kalangan tertentu saja, tapi bebas bagi siapa saja. Makanya tidak heran kalau pengikutnya sangat banyak dan sampai ke luar negeri," Urwatul Wutsqa. Foto Moehammad Bakrie/detikcomSelain ajaran keagamaan, perkembangan tarekat ini di Maros, juga ditandai dengan bangunan monumental berupa masjid bernama Urwatul Wutsqa yang didirikan oleh raja ke empat Turikale, berjuluk Syekh Abdul Qadir Jaelani di tahun 1854. Masjid inilah yang menjadi tempat awal pengembangan tarekat Khalwatyah Samman, selain Leppakomae dan Pattene di satu masjid tertua di Maros ini, tidak hanya menyimpan sejarah pengembangan Islam, khususnya tarekat Khalwatyah, tapi juga sebagai tempat para tokoh menggagas pendirian kabupaten sekaligus pemberian nama telah beberapa kali dipugar, bangunan aslinya masih tetap terjaga. Selain itu, beduk dan mimbar yang hampir seumur dengan masjid itu juga masih terjaga. zak/zak

GuruSekumpul: Bacaan Pengantar. Bandung: Wahana Jaya Abadi, 2015. 10 6 Download (0) JAKARTA - Guru Sekumpul juga piawai menulis. Beberapa karyanya ditulis dengan memakai aksara Arab Melayu. Untuk menyebutkan sejumlah buah tangannya, yakni 1 Manaqib Wali Allah Ta’ala Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Qadiry al-Hasani as-Samman al-Madani; 2 Al-Risalah al-Nuraniyyah fi Syarhi al-Tawassulat al-Sammaniyah; dan 3 Al-Imdad fi Aurad Ahl al-Widad. Selain itu, dia juga mengajarkan buku-buku yang ditulis para pengarang dari beragam fokus keilmuan Islam. Sebut saja Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, Kitab Sifat 20 karya Utsman bin Abdullah bin al-Alawi, Al-’lmu An-Nabras fi at-Tanbih ’Ala Manhaj al-Akyasi karangan Sayyid Abdullah bin Alawi bin Hasan Al-Athas; serta Tanbih al-Mughtarin oleh Abdul Wahab Asy-Sya'rani. Melalui buku yang tersebut belakangan itu, Guru Sekumpul mengajarkan pentingnya meniru akhlak generasi emas yang dekat dengan zaman Rasulullah SAW. Di antaranya adalah keteguhan meyakini Alquran dan Sunnah, baik dalam perkataan maupun perbuatan; berserah diri kepada Allah; serta ikhlas dalam berilmu dan beramal. Hal lain yang dianjurkannya adalah tekad untuk berhijrah kepada kondisi yang lebih baik; meninggalkan perbuatan munafik karena Allah; bersabar atas ujian; bersemangat ibadah; sedikit tertawa dan sering-sering mengingat kematian dzikrul maut; banyak takut kepada Allah; merenungi makna kematian; serta berhati-hati wara terhadap dunia dan syahwat. Di Kalimantan Selatan, Guru Sekumpul masyhur sebagai pengajar tarekat Sammaniyah. Aliran salik ini didirikan Muhammad bin Abdul Karim, sosok dari awal abad ke-18 yang lahir di Madinah. Beberapa sumber menyebutkan, tokoh yang membawa tarekat ini ke Banjar adalah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, kendati itu bukan satu-satunya tarekat yang diperkenalkannya kepada masyarakat setempat. Salah satu fokus dalam aliran ini adalah pentingnya berzikir kepada Allah. Di Martapura dan sekitarnya, Guru Sekumpul mengajarkan tarekat Sammaniyah kepada para muridnya, setidaknya mulai semarak sejak 1994. Sanad yang disambungkan dia berasal pula dari Syekh Muhammad Arsyad disarikan Ahmad Zakki Mubarak, Guru Sekumpul memiliki sejumlah pengikut dalam kajian tarekat ini. Di antaranya adalah KH M Syukeri Unus Amuntai, KH Sofyan Noor bin H Ahmad Sya'rani, KH Syamsuri bin H Muhrid, dan KH Munawar Gazali. Sejak 1970-an, pengajian-pengajian yang digelar Guru Sekumpul memang menjabarkan tarekat Sammaniyah. Kegiatan ini dilaksanakan setiap pagi Rabu, Kamis dan Ahad, serta pada malam Rabu, Sabtu dan Minggu. Para pesertanya dapat mencapai jumlah 2000 orang. Mereka kebanyakan terdiri atas laki-laki dan sisanya perempuan pada malam Rabu ketika pengajian khusus kaum hawa dihelat. Masih menurut riset Mubarak, para pengikut tarekat Sammaniyah di pengajian Guru Sekumpul mengaku terinsipirasi. Mereka menyebutkan, ajaran-ajaran sang guru dapat memberikan kesadaran diri serta menambah kecintaan terhadap ilmu-ilmu agama. Pengajian ini juga menjadi wahana untuk mengembangkan ajaran Islam di tengah masyarakat, khususnya Kalimantan Selatan. Materi-materi yang disampaikan berkaitan dengan persoalan kehidupan masyarakat sehari-hari, termasuk di antaranya ihwal akidah, tauhid, fiqih, akhlak, tasawuf, dan tafsir. sumber Pusat Data RepublikaBACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini dzikir #tarikat #sammaniyahDalam tarekat Sammaniyah zikir yang digunakan melalui urutan-urutan sebagai berikut : dalam kitab alNafahat al-Ilahiyyah fi kayfi
SejarahTarekat: Pertumbuhan dan Penyebaran di Dunia Islam (UUM Press) Mohd Faizal Harun 2018-01-01 Buku ini merupakan sebuah karya yang membicarakan sejarah tarekat dunia Islam. Lantaran itu, karya ini sesuai dibaca oleh khalayak umum yang ingin mengetahui persoalan tarekat dan lingkungan yang melingkarinya.
ThoriqotSammaniyah / Tariqah Syekh Samman FADHILAH MENDOAKAN UMAT RASULULLAH SAW Berkata Al Imam Quthubil Ghaust wa Quthubil Akwan As Syeikh As Sayyid
Guru Sekumpul || TENTANG DZIKIR THORIQOH SAMMANIYAH ||#gurusekumpul#thoriqoh#tarekat#sammaniyah#syekhsamman#twentyninechanne
KCKO. 488 407 428 474 76 127 276 189 348

dzikir tarekat sammaniyah guru sekumpul